Klaster covid dan penyebarannya di Indonesia

Klaster covid terus bertambah seakan belum ada tanda berhenti dan berakhir. Bahkan penyebaran virus corona terus terjadi dengan berbagai cara penularan, sehingga penyebarannya sulit dihentikan khususnya di Indonesia. Dengan demikian kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan entah sampai kapan.

Meskipun telah ditemukan vaksin corona atau covid, namun belum menjadi jaminan tidak akan terinfeksi kembali. Inilah yang menjadi masalah terbesar dalam penanganan dan pencegahan sebaran serta serangan covid 19. Di lain pihak cluster corona juga masih sering terjadi. Seperti penemuan klaster corona baru yakni klaster delta plus yang ditemukan di India.

Jika ditinjau dari gejala yang ditimbulkan, maka serangan virus corona berbeda dengan virus virus penyakit pada umumnya. Pada beberapa kasus penyebaran penyakit pada umumnya memiliki ciri khas sama, seperti gejala, masa inkubasi, dan lainnya. Namun virus modern yang satu ini memiliki gejala yang berlainan setiap ditemukan sebaran kasus baru.

Sebaran virus corona berdasarkan klaster

Kehebatan virus COVID-19 adalah mampu beradaptasi dengan situasi baru. Sehingga setiap serangan corona selalu di ikuti kemampuan untuk bermutasi. Dengan demikian menimbulkan kelompok kelompok penyerangan yang berbeda. Itulah sebabnya banyak bermunculan klaster klaster covid baru. Sebab virus corona mampu melakukan mutasi dengan cepat.

Sehingga jangan heran jika muncul nama nama klaster corona yang aneh aneh, seperti klaster keluarga, klaster perkantoran, klaster rumah makan, klaster pasar, klaster pemukiman, hingga klaster gowes. Nama nama klaster dibuat berdasarkan penemuan virus corona secara berkelompok. Sebab setiap serangan selalu terjadi mutasi baru.

Klaster covid

Varian baru virus corona terus bermunculan

Pertama kali di temukan di Wuhan China pada akhir 2019 dan hingga saat ini belum terlihat tanda tanda serangan corona akan berakhir. Meskipun para ahli telah menemukan virus pencegah serangan covid-19 dan telah di suntikkan pada ribuan orang. Namun pada kenyataannya tidak dapat mencegah penularan virus secara sempurna. Sebab mutasi baru corona terus menerus bermunculan.

Sehingga banyak kasus orang yang telah mendapatkan vaksin corona, ternyata masih bisa terjangkit kembali dengan jenis mutasi yang berbeda. Pendek kata vaksin covid yang saat ini beredar hanya untuk jenis mutasi varian corona tertentu. Sehingga setelah muncul jenis mutasi baru, maka suntikan vaksin tidak mampu menahan gempuran serangan bakteri corona baru yang telah bermutasi.

Varian mutasi corona telah terjadi ratusan hingga ribuan kali. Jenis mutasi baru dinamakan sebagai jenis virus corona DELTA yang pertama kali ditemukan di India. Namun karena keganasan dan kecepatannya menyebar dan kabarnya hanya saling berpapasan, maka varian terganas ( sementara ) ini dinamakan sebagai VARIAN DELTA PLUS.

Varian bakteri corona yang ditemukan saat ini

Meskipun banyak nama nama klaster covid, namun itu hanya sebagian kecil mutasi virus corona. Sehingga dampaknya tidak signifikan. Namun hingga saat ini telah banyak perubahan besar dalam penyebaran virus corona. Dan pada kenyataannya jauh lebih ganas dan cepat melakukan penularan. Inilah yang harus diwaspadai masyarakat dunia. Berikut nama nama varian corona saat ini :

Varian asli corona : Pertama kali di temukan di Wuhan China pada 1 Desember 2019. Dunia masih belum beranjak dan belum menyadari yang akan terjadi kemudian.

Varian Alpha : Pertama kali ditemukan di Inggris. memiliki nama ilmiah B.1.1.7 dan lebih cepat menular dari pada induknya dari Wuhan.

Varian Delta : Terlihat pertama kali di India. Sebelumnya hanya diketahui sebagai klaster covid keturunan. Namun karena ganasnya cara penularannya, maka naik menjadi varian dan cukup ditakuti. Varian Delta ini oleh WHO disebut dengan nama ilmiah B.1.617.2

Varian Beta : Mutasi virusa corona ini di temukan di dataran Afrika dengan nama ilmiah B.1.351. Di umumkan secara resmi pada 18 Desember 2020 oleh pemerintahan Afrika.

Varian Gamma ( Zeta ) : Dengan nama ilmiah P.1 dan pertama kali muncul di kota Manaus di Brasil pada sekitar Desember 2020. Terdeteksi karena membuat yang terinfeksi meninggal dunia. Pada awalnya menyebar cukup cepat hingga ke Amerika Latin

Varian Epsilon : Ditemukan di California, AS dengan nama ilmiah B.1.427 dan atau B.1.429. Memiliki dua nama ilmiah sebab terdeteksi sejak November 2020, namun sebenarnya muncul pada Juni 2020.

Varian Iota : Mutasi virus corona ini pertama kali terdeteksi di New York AS pada kisaran November 2020. Dengan memiliki nama ilmiah B.1.526. Varian Iota muncul di daerah lingkungan papan atas Manhattan, Washington Heights

Varian Kappa : Ditemukan di India pada sekitar Oktober 2020. Memiliki nama ilmiah B.1.617.1. Meskipun nama serupa dengan varian delta (B.1.617.2), namun tidak seganas varian corona delta.

Varian Theta : Belum lama di temukan di Filipina pada bulan Maret 2021 dengan sebutan ilmiah P.3.

Apa saja gejala yang ditimbulkan virus corona

Pada hakikatnya setiap penyakit memiliki gejala umum yang ditimbulkan pertama kali. Demikian juga dengan serangan corona juga memiliki ciri ciri khas, meskipun hampir hampir mirip dengan penyakit lainnya, seperti : batuk batuk terus menerus, demam tinggi ( di atas 37°C ), dan serta hilangnya indera penciuman dan mati rasa. Meskipun demikian tidak harus selalu sama.

Selain dari pada itu pada kenyataannya setiap orang yang terinfeksi memiliki pengalaman yang berbeda. Bahkan seringkali terindikasi sebagai serangan penyakit berbahaya. Hal demikian biasanya terjadi pada mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Mirip gejala penyakit flu tanpa demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak demam

Seperti serangan flu disertai demam: Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, sakit tenggorokan, suara serak, demam, kehilangan nafsu makan.

Pendarahan Saluran Pencernaan ( Gastrointestinal ) : Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak ada batuk.

Mengalami kelelahan : Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, batuk, demam, suara serak, nyeri dada, kelelahan.

Kebingungan tanpa sebab : Sakit kepala, kehilangan daya penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot.

Perut sakit dan pernapasan terganggu : Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, sakit perut.

Dengan kemampuan bermutasi dan menghasilkan varian varian baru yang notabene lebih ganas dan cepat menular, maka alat tes virus corona mesti terus dikembangkan dengan kepekaan deteksi tingkat tinggi. Diharapkan dampak pandemi covid 19 tidak terus meluas dan berkembang tanpa henti.